Kumpulkan Seniman Jalanan, LE Perkusion Tetap Menghibur Ditengah Pandemi Covid-19

SALAM – Sebuah grup musik angklung perkusion yang menamakan dirinya LE Perkusion tetap menghibur ditengah pandemi Covid-19 dengan menggandeng seniman-seniman jalanan.

Lilik (50) warga Dusun Semen, Desa Sucen Kecamatan Salam selaku ketua grup mengatakan kljika anggotanya adalah seniman jalanan yang berasal dari berbagai wilayah seperti Jombor, Muntilan dan Kota Magelang. Dirinya mengatakan jika dirinya dan grup setiap hari “mangkal” di lampu merah Semen.

” Kalau setiap hari kita mainnya ya disini mas, menghibur pengguna jalan. Namun ketika ada job kita baru bergeser.” Kata Lilik

sabar lur..

Dia juga menyampaikan jika LE Angklung Perkusion miliknya juga sering mengisi di acara syukuran, pernikahan dan lain sebagainya. Untuk kegiatan menghibur pengguna jalan di Lampu Merah Semen, dirinya mengatakan setiap hari dirinya akan berada dilokasi tersebut mulai pukul 09.00 s.d 16.00 wib.

Ketika disinggung terkait dampak Covid-19, dirinya mengatakan sangat dirasakan dampaknya. Dengan oemberlakuan pembatasan dimana-mana otomatis pengguna jalan pun jumlahnya mengalami penurunan drastis. Apalagi penghasilan mereka bergantung kepada keikhlasan para pengguna jalan untuk memberikan rejeki kepada mereka.

” Kalau Covid-19 ini jujur kami juga takut mas, namun akhirnya nanti urusan perut lah mas yang menjadikan kami tidak takut. Maunya kita juga mematuhi anjuran pemerintah untuk tinggal dirumah, namun kami mau makan apa nantinya.” Lanjut Lilik.

Menurutnya awal grup tersebut terbentuk adalah dari obrolan antas sesama seniman jalanan. Dari hasil ngobrol tersebut kemudian dibentuklah grup tersebut. Dirinya juga mengatakan, waulupun menghibur pengguna jalan dibawah terik matahari, dirinya dan anggota grup yang lain tetap menjalankan ibadah puasa.

” Kami tetep berpuasa mas, itu yang disana sampai cuci muka berulang kali biar tidak dehidrasi, haha. InsyaAllah kami tetap berpuasa.” Tambahnya

Dalam satu hari menghibur pengguna jalan, dirinya mengatakan setiap anggota mendapatkan hasil sekitar 60 ribu rupiah. Bergantung kepada pengguna jalan yang melintas.

” Ya kami kan hanya ngumpulin uang dari lima ratus rupiah, seribu rupiah mas, yang penting masih bisa buat makan, itu sudah bersyukur.” Jelas Lilik

Selama mereka “mangkal” di lampu merah Semen, Lilik mengatakan belum pernah dijumpai kendala-kendala yang berarti. Dirinya juga berharap, mengingat grup angklung perkusi di sekitar Magelang jumlahnya lumayan banyak, dia menginginkan pemerintah Kabupaten Magelang memberikan wadah buat menampung karya mereka.

” Kalau bisa ya di Magelang ini diberikan wadah untuk grup-grup seperti kami ini. Jumlahnya kan banyak mas disini. Pemerintah semoga dapat menggalihke (memikirkan-red) supaya bisa maju.” Pungkasnya.(Dw)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *