Manfaatkan Waktu Luang, Dedi Suprabowo Ajarkan Pemuda Sekitar Membuat Blangkon

BOROBUDUR,lintasmagelang.com – Pandemi Covid-19 yang membuat kebanyakan masyarakat harus tetap menjaga jarak dan beraktifitas dirumah ternyata dapat menimbulkan sebuah ide, gagasan bahkan aksi sosial sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.

Salah satunya adalah pekerja seni dalam bidang kerajinan blangkon yang ada di Kabupaten Magelang. Dalam masa Pandemi, pengrajin blangkon tetap berkreasi bahkan menyempatkan diri untuk membina kelompok masyarakat untuk dapat menghasilkan sesuatu yang positif ditengah keterbatasan.

Sebut saya Dedi Supraba, warga Dusun Ngentak Desa Wanurejo Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang yang pada saat Pandemi justru memanfaatkan waktu untuk melatih pemuda di sekitar tempat tinggalnya untuk membuat blangkon.

sabar lur..
Dedi Supraba membuat Blangkon dirumahnya, Foto : istimewa

” Awalnya saya coba-coba untuk membuat blangkon ini pada sekitar tahun 2010. Awalnya otodidak dengan melihat para senior membuat blangkon. Kalau belajar yang secara serius baru akhir-akhir ini.” Kata Lelaki berusia 36 tahun tersebut, Jumat 07/08/2020.

Menurutnya selama Pandemi Covid19, kendala dalam pembuatan blangkon terletak pada daya beli masyarakat. Namun untuk bahan baku dirinya mengatakan tidak terlalu kesulitan.

” Kalau kendala mungkin hanya dalam hal daya beli masyarakat saja. Kalau bahan baku Alhamdulillah tidak kesulitan. Kita terus berproduksi, dan menyelesaikan pesanan. Namun ya itu, ketika pesanan sudah jadi, yang pesan ini banyak yang tidak mengambil pesenannya karena kondisi Pandemi.” Lanjutnya.

Selama ini dalam sehari dirinya dapat menghasilkan satu buah blangkon dengan kualitas yang baik. Walaupun menurut Dedi, hal itu tidak dapat menjadi acuan karena sistem pengerjaannya hanya dilakukan selama waktu luang.

” Targetnya satu hari selesai satu blangkon. Tapi ya itu gak bisa buat acuan karena garapnya juga cuma pas ada waktu luang. Namun selama Pandemi ini justru banyak waktu untuk garap blangkon.” Terangnya.

Dirinya menghimpun pemuda dan ibu-ibu PKK sekitar tempat tinggalnya untuk dia latih menggarap sebuah blangkon, kamus kristik dan perlengkapan busana Jawa lainnya. Dalam satu Minggu diadakan dua kali pertemuan dirumahnya.

” Pemuda itu kita sama-sama belajar membuat blangkon, kalau ibu-ibu PKK itu yang kamus kristik. Walaupun ada perlengkapan busana Jawa lainnya yang kami buat. Sementara hanya untuk mengisi waktu luang.” Kata Dedi

Blangkon gaya Yogyakarta dan Surakarta selama ini yang dirinya buat dirumahnya. Menurutnya ada perbedaan yang khas antar keduanya. Dan hal itu menurutnya jarang diketahui oleh masyarakat umum.

” Disesuaikan. Kalau busana jawanya arahnya ke Surakarta ya Blangkon dan kerisnya nanti gaya Surakarta. Jangan dicampur-campur. Menurut saya sebaiknya begitu.” Lanjutnya.

Dirinya berharap Pandemi segera berakhir sehingga kegiatan dapat berjalan kembali secara normal. Dan untuk pemuda dan Ibu-ibu PKK di wilayahnya nantinya sudah mempunyai bekal untuk berwirausaha sendiri setelah Pandemi ini berakhir.(Dw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *