“Suran Tutup Ngisor” Tolak Balak Pandemi Covid-19, Tetap Patuhi Protokol Kesehatan

DUKUN, lintasmagelang.com – Ada yang sedikit berbeda dalam acara ” Suran Tutup Ngisor” tahun ini, dimana acara tersebut dilakukan ketika masyarakat masih dalam kondisi Pandemi Covid-19.

Tahun ini, tradisi yang telah dilakukan selama turun temurun oleh seniman dari padepokan Tjipto Budoyo lebih dikhususkan sebagai Tolak Balak dari Pandemi yang tengah berlangsung. Itu yang disampaikan oleh Sitras Anjilin (58) pimpinan padepokan yang berada di Dusun Tutup Ngisor Desa Sumber Kecamatan Dukun, Kamis 03/09.

” Kami keluarga padepokan, kali ini mengadakan Suran, terutama untuk tolak bapak terhadap Pandemi Covid-19 yang tengah melanda.” Katanya.

sabar lur..

Menurutnya, selain tradisi Suran, ada beberapa kegiatan yang masih selalu dijalankan oleh padepokan tersebut. Diantaranya adalah Peringatan HAri Kemerdekaan RI, Syawalan (Iedul Fitri) dan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Sebagai pembuka dari kegiatan Suran ini, akan diawali dengan Uyon-uyon Candi yang akan melantunkan gending-gending Jawa dan dilakukan di area makam Romo Yoso (Candi)

” Mulai dari Gending Sri Slamet (wilujeng), Ketawang Subokastowo, ladrang Sri Rejeki, Asmarandana, Lutut Manggung dan Ladrang Pangkur.” Tambahnya.

Untuk puncaknya dilakukan di hari Rabu, 02/09 malam dengan mengadakan pementasan berupa Panembromo oleh anggota keluarga besar Romo Yoso, Beksan Kembar Mayang dan Wayang Orang dengan mengambil cerita ” Lumbung Tugu Mas “.

” Paginya kemudian untuk menghibur masyarakat sekitar akan diadakan pementasan kesenian rakyat berupa Jathilan dan Wayang Topeng. Karena tahun ini kami tidak menghadirkan pementasan dari luar daerah. ‘Suran’ dilakukan oleh keluarga padepokan. Kami menyesuaikan dengan situasi,” Lanjut Sitras.

Seperti yang diketahui jika Tradisi “Suran Tutup Ngisor” sebagai perayaan tahun baru dalam kalender Jawa, mereka lakukan setiap pertengahan Sura, bertepatan dengan bulan purnama. Untuk tahun ini jatuh pada 2 September 2020 diinisiasi oleh Padepokan Tjipto Boedojo, sekitar enam kilometer barat daya puncak Gunung Merapi, didirikan pada 1937 oleh Romo Yoso Sudarmo.

” Kami tetap inginkan masyarakat menjalankan dan mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan, dan semoga Pandemi ini segera sirna sehingga kondisi akan pulih seperti sedia kala.” Katanya.(Dw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *